, Sebuah kisah yang
belum sempat terselesaikan,
sebuah perjalanan hati
yang ujungnya belum bisa terprediksi,
sebuah rasa bagai sebuah konstelasi semu
sang rasi, sebuah hubungan
yang absurd bak hubungan asterisma dan berharap menjadi sebuah ikatan mutlak bak ikatan dalam sebuah galaksi.
Saya adalah makhluk bumi
yang menginginkan cahaya
Sirius, berharap jingganya
mars turun di depan ku tuk sekedar mengusir resah
yang mengalir dan ber-asa memiliki cincin kabut saturnus
yang akan diikatkan dijari manisku
“Sirius” (hayalan sang peri Sirius).
Bagiku kau bukanlah sekedar bintang semu,
bukan pula bintang nyata,
bagi ku kau lebih dari keduanya.
Kau tak hanya mampu menghasilkan cahaya sendiri tetapi juga mampu membuat ku bercahaya.
Kau adalah Cirius versi saya,
bukan Proxima
Centaury, bukan Arcturus,
Spica, Rigel atau Matahari sekalipun.
Kau mampu membuat rasi dengan konstelasinya,
asterima dengan ketakberterimaannya dan
black hole dengan sisi mistiknya.
Saya masih teringat kejadian setahun
yang lalu. Saat itu kau tertutupi cahaya fatamorgana bintang semu.
Sebuah bintang
yang layaknya fajar dipenghujung malam,
datang dan pergi,
dan akhirnya tak kembali,
terus tertutupi.
Saya yakin,
meskipun kau telah menjadi
El Gordo namun kau tetap menjadi
Sirius bagiku berjalan beriring,
bagai Enceladus bagi Saturnus,
Ganymede bagi Jupiter atau Bulan bagi Bumi.
Kau memiliki lintasan
yang berbeda bagai rotasi venus namun akan tetap indah dipandang.
Kau bukan menentang,
tapi kau punya prinsip.
Kedewasaan berpikirmu bahkan lebih dari
yang ku bayangkan dan semuanya berjalan secara alami dan tak seperti kabut
Jupiter. Tak seperti fatamorgana
spectrum pelangi dan tak juga seperti cincin kabut saturnus.
Kebersamaan singkat itu saya harap bukanlah seperti kehadiran gerhana
yang menimbulkan sisi gelap.
Saya melihatmu layaknya sebuah bintang
yang akan tetap bersinar meskipun
spectrum cahaya disekitarnya lebih kuat darinya.
Saya yakin kau akan tetap bersinar,
memberi sinar,
dan membuat sinar setiap apa
yang ada didekatmu.
“Tetap bersinar”
itu yang selalu kau sebut disetiap badai itu datang dan menghantam orbitmu.
InsSebelah