Pada akhirnya, kita
sendiri yang memilih jalan dan cara hidup kita. Apa dan bagaimana. Berkahkah?
Luruskah? Beginikah? Begitukah? Atau hanya dapat hikmah? Ah, itu pilihan saya,
kamu, dia, atau mereka.
Allah tahu titik
terlemah kita, dan disitulah kita akan diuji. Saat ujian yang diberikan masih
remeh, bisa jadi iman kita masih juga remeh. Jadi teringat, saya sering diuji
dengan hal yang remeh, membuat saya berpikir ‘masih remeh itu kah iman saya?’
Tapi masih aja sok seperti menerima beban berat dipundak ini. Okay saya
tunjukkan tentang sabar. Merupakan Pe er terberat saya, mengasah sabar.
Bagaimana saya memanagement marah saat marah menjadi hal yang wajar. Mengerem
bahkan mengunci mulut ini dan lebih berlapang hati, atau berbicara dengan
kelembutan sembari senyum manis terlempar. Ah, susahnya (feel like crazy).
‘Iya iya, jangan
marah!’ Lagi-lagi itu yang terdengar. Seperti tertampar.
‘Marah?’ saya tidak merasa itu marah, tapi begitulah bagi dia yang disitu,
disitu, dan disitu. Kembali membuat saya berpikir, niat yang baik tapi
penyampaian yang salah. Yah, mungkin begitu.
Jika masih ada yang
cerewet,
Masih ada yang
marah-marah
Masih ada yang
menuntut begini begitu
Sadarilah, begitu
caranya mengungkapkan sayangnya padamu,
Tapi, ketika dia
mulai diam, disinilah dia mebiasakan diri tanpa kamu
Tegur saya, saat
tingkah salah dalam melangkah :*
Teruntuk
bidadari-bidadariku, ma’af ku sampaikan atas kata, tingkah, dan poker face nya
diri :-|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar