Senin, 13 Oktober 2014

Saya, ya begini!

Pada akhirnya, kita sendiri yang memilih jalan dan cara hidup kita. Apa dan bagaimana. Berkahkah? Luruskah? Beginikah? Begitukah? Atau hanya dapat hikmah? Ah, itu pilihan saya, kamu, dia, atau mereka.

Allah tahu titik terlemah kita, dan disitulah kita akan diuji. Saat ujian yang diberikan masih remeh, bisa jadi iman kita masih juga remeh. Jadi teringat, saya sering diuji dengan hal yang remeh, membuat saya berpikir ‘masih remeh itu kah iman saya?’ Tapi masih aja sok seperti menerima beban berat dipundak ini. Okay saya tunjukkan tentang sabar. Merupakan Pe er terberat saya, mengasah sabar. Bagaimana saya memanagement marah saat marah menjadi hal yang wajar. Mengerem bahkan mengunci mulut ini dan lebih berlapang hati, atau berbicara dengan kelembutan sembari senyum manis terlempar. Ah, susahnya (feel like crazy).

‘Iya iya, jangan marah!’ Lagi-lagi itu yang terdengar. Seperti tertampar. ‘Marah?’ saya tidak merasa itu marah, tapi begitulah bagi dia yang disitu, disitu, dan disitu. Kembali membuat saya berpikir, niat yang baik tapi penyampaian yang salah. Yah, mungkin begitu.

Jika masih ada yang cerewet,
Masih ada yang marah-marah
Masih ada yang menuntut begini begitu
Sadarilah, begitu caranya mengungkapkan sayangnya padamu,
Tapi, ketika dia mulai diam, disinilah dia mebiasakan diri tanpa kamu

Tegur saya, saat tingkah salah dalam melangkah :*
Teruntuk bidadari-bidadariku, ma’af ku sampaikan atas kata, tingkah, dan poker face nya diri :-|

Tidak ada komentar:

Posting Komentar