Selasa, 21 Oktober 2014

Sirius itu!

, Sebuah kisah yang belum sempat terselesaikan, sebuah perjalanan hati yang ujungnya belum bisa terprediksi, sebuah rasa bagai sebuah konstelasi semu sang rasi, sebuah hubungan yang absurd bak hubungan asterisma dan berharap menjadi sebuah ikatan mutlak bak ikatan dalam sebuah galaksi. Saya adalah makhluk bumi yang menginginkan cahaya Sirius, berharap jingganya mars turun di depan ku tuk sekedar mengusir resah yang mengalir dan ber-asa memiliki cincin kabut saturnus yang akan diikatkan dijari manisku “Sirius” (hayalan sang peri Sirius).

Bagiku kau bukanlah sekedar bintang semu, bukan pula bintang nyata, bagi ku kau lebih dari keduanya. Kau tak hanya mampu menghasilkan cahaya sendiri tetapi juga mampu membuat ku bercahaya. Kau adalah Cirius versi saya, bukan Proxima Centaury, bukan Arcturus, Spica, Rigel atau Matahari sekalipun. Kau mampu membuat rasi dengan konstelasinya, asterima dengan ketakberterimaannya dan black hole dengan sisi mistiknya.

Saya masih teringat kejadian setahun yang lalu. Saat itu kau tertutupi cahaya fatamorgana bintang semu. Sebuah bintang yang layaknya fajar dipenghujung malam, datang dan pergi, dan akhirnya tak kembali, terus tertutupi. Saya yakin, meskipun kau telah menjadi El Gordo namun kau tetap menjadi Sirius bagiku berjalan beriring, bagai Enceladus bagi Saturnus, Ganymede bagi Jupiter atau Bulan bagi Bumi.

Kau memiliki lintasan yang berbeda bagai rotasi venus namun akan tetap indah dipandang. Kau bukan menentang, tapi kau punya prinsip. Kedewasaan berpikirmu bahkan lebih dari yang ku bayangkan dan semuanya berjalan secara alami dan tak seperti kabut Jupiter. Tak seperti fatamorgana spectrum pelangi dan tak juga seperti cincin kabut saturnus.

Kebersamaan singkat itu saya harap bukanlah seperti kehadiran gerhana yang menimbulkan sisi gelap. Saya melihatmu layaknya sebuah bintang yang akan tetap bersinar meskipun spectrum cahaya disekitarnya lebih kuat darinya. Saya yakin kau akan tetap bersinar, memberi sinar, dan membuat sinar setiap apa yang ada didekatmu. “Tetap bersinar” itu yang selalu kau sebut disetiap badai itu datang dan menghantam orbitmu.

InsSebelah

Senin, 13 Oktober 2014

Saya, ya begini!

Pada akhirnya, kita sendiri yang memilih jalan dan cara hidup kita. Apa dan bagaimana. Berkahkah? Luruskah? Beginikah? Begitukah? Atau hanya dapat hikmah? Ah, itu pilihan saya, kamu, dia, atau mereka.

Allah tahu titik terlemah kita, dan disitulah kita akan diuji. Saat ujian yang diberikan masih remeh, bisa jadi iman kita masih juga remeh. Jadi teringat, saya sering diuji dengan hal yang remeh, membuat saya berpikir ‘masih remeh itu kah iman saya?’ Tapi masih aja sok seperti menerima beban berat dipundak ini. Okay saya tunjukkan tentang sabar. Merupakan Pe er terberat saya, mengasah sabar. Bagaimana saya memanagement marah saat marah menjadi hal yang wajar. Mengerem bahkan mengunci mulut ini dan lebih berlapang hati, atau berbicara dengan kelembutan sembari senyum manis terlempar. Ah, susahnya (feel like crazy).

‘Iya iya, jangan marah!’ Lagi-lagi itu yang terdengar. Seperti tertampar. ‘Marah?’ saya tidak merasa itu marah, tapi begitulah bagi dia yang disitu, disitu, dan disitu. Kembali membuat saya berpikir, niat yang baik tapi penyampaian yang salah. Yah, mungkin begitu.

Jika masih ada yang cerewet,
Masih ada yang marah-marah
Masih ada yang menuntut begini begitu
Sadarilah, begitu caranya mengungkapkan sayangnya padamu,
Tapi, ketika dia mulai diam, disinilah dia mebiasakan diri tanpa kamu

Tegur saya, saat tingkah salah dalam melangkah :*
Teruntuk bidadari-bidadariku, ma’af ku sampaikan atas kata, tingkah, dan poker face nya diri :-|